Renungan Harian 06 October 2026 Dibaca 143 kali

Jangan Terlalu Sibuk Melayani, Sampai Lupa Mendengarkan Tuhan

Jangan Terlalu Sibuk Melayani, Sampai Lupa Mendengarkan Tuhan
🔍 Klik gambar untuk memperbesar

Selasa, 6 Oktober 2026 — Peringatan Santo Bruno, Imam || Bacaan: Galatia 1:13–24; Mazmur 139; Lukas 10:38–42

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus...

Ada saatnya hidup kita begitu penuh dengan aktivitas. Kita bekerja, mengurus keluarga, melayani Gereja, mengikuti kegiatan lingkungan, membantu sesama, menyelesaikan berbagai tanggung jawab, bahkan sibuk dengan pelayanan rohani. Namun, di tengah semua itu, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita ajukan: Apakah dalam kesibukan itu kita masih sungguh-sungguh mendengarkan Tuhan?

Injil hari ini mempertemukan kita dengan Marta dan Maria. Marta sibuk melayani Yesus, sementara Maria duduk dekat kaki Tuhan dan mendengarkan sabda-Nya. Yesus tidak mengatakan bahwa melayani itu salah. Yang dikoreksi Yesus adalah hati yang “kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara”. Maria memilih “bagian yang terbaik” karena ia menyadari bahwa sebelum bekerja untuk Tuhan, kita harus terlebih dahulu tinggal bersama Tuhan.

Pesan ini sangat relevan bagi umat Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan. Kita membutuhkan umat yang aktif. Kita membutuhkan pengurus lingkungan, pelayan liturgi, katekis, lektor, pemazmur, anggota kelompok kategorial, OMK, keluarga-keluarga Katolik, dan berbagai bentuk pelayanan lainnya. Tetapi Gereja tidak boleh hanya menjadi tempat di mana kita banyak bekerja. Gereja harus menjadi tempat di mana kita berjumpa dengan Kristus.

Sebab pelayanan tanpa doa mudah berubah menjadi kelelahan. Aktivitas tanpa keheningan mudah berubah menjadi rutinitas. Bahkan pelayanan yang awalnya lahir dari kasih dapat perlahan menjadi sumber kekecewaan ketika kita merasa tidak dihargai, dibandingkan, atau tidak diperhatikan.

Karena itu, hari ini Yesus mengundang kita untuk berhenti sejenak. Duduklah di dekat kaki-Nya. Dengarkan Dia. Biarkan Dia menyentuh kembali hati kita.

Bacaan pertama menghadirkan pengalaman Santo Paulus. Dahulu ia menganiaya Gereja, tetapi rahmat Allah mengubah hidupnya. Orang yang dahulu menjadi penganiaya justru kemudian menjadi pewarta Kristus. Hidup Paulus menjadi kesaksian bahwa tidak ada masa lalu yang terlalu gelap bagi rahmat Allah untuk mengubahnya.

Mazmur hari ini semakin meneguhkan: Tuhan mengenal kita secara mendalam. Ia mengetahui jalan hidup kita, kegelisahan kita, luka kita, kegagalan kita, bahkan hal-hal yang tidak mampu kita ceritakan kepada siapa pun. Maka, saudara-saudari terkasih, kita tidak harus selalu terlihat kuat di hadapan Tuhan. Kita hanya perlu datang dengan hati yang jujur.

Pada hari peringatan Santo Bruno, kita juga diingatkan akan nilai keheningan. Santo Bruno dikenal karena kehidupan doa, kontemplasi, kesederhanaan, dan pencarian Allah yang mendalam. Kalender liturgi hari ini memang memperingati Santo Bruno sekaligus menawarkan bacaan Pekan Biasa XXVII.

Kita mungkin tidak dipanggil menjadi pertapa seperti Santo Bruno. Kita dipanggil hidup di tengah keluarga, pekerjaan, masyarakat, dan dunia digital. Tetapi kita tetap membutuhkan “padang gurun kecil” dalam hati—ruang sunyi tempat kita berhenti dari kebisingan dunia dan mendengarkan Tuhan.

Lalu, apa yang perlu kita lakukan hari ini? Marilah kita menerjemahkan Sabda Tuhan menjadi tindakan nyata.

Pertama, sediakan waktu 10–15 menit untuk keheningan. Letakkan telepon. Matikan notifikasi. Bacalah Lukas 10:38–42 secara perlahan. Kemudian diamlah di hadapan Tuhan.

Kedua, periksa kembali motivasi pelayanan kita. Tanyakan: “Apakah saya melayani karena mencintai Kristus dan sesama, atau karena ingin dihargai, dipuji, atau dianggap penting?”

Ketiga, pulihkan satu relasi. Hubungilah seseorang yang mungkin sudah lama tidak kita sapa. Mintalah maaf jika ada yang terluka. Jadilah pembawa damai di dalam keluarga, lingkungan, dan komunitas.

Keempat, jadikan keluarga sebagai ruang doa. Luangkan waktu malam ini untuk berdoa bersama. Tidak perlu panjang. Satu dekade Rosario, membaca Injil, atau doa spontan bersama sudah menjadi langkah kecil yang sangat berarti.

Kelima, hadir bagi mereka yang sedang lelah. Di sekitar kita mungkin ada orang tua yang kesepian, keluarga yang sedang mengalami masalah, anak muda yang kehilangan arah, atau umat yang perlahan menjauh dari Gereja. Jangan hanya menunggu mereka datang. Gereja harus datang menemui mereka.

Inilah praksis pastoral yang lahir dari hati Maria: mendengarkan sebelum berbicara, memahami sebelum menghakimi, menemani sebelum menasihati, dan mengasihi sebelum menuntut.

Hari ini Tuhan tidak meminta kita melakukan segala sesuatu. Ia meminta kita memilih yang sungguh penting. Mari menjadi umat yang tidak hanya sibuk bekerja bagi Tuhan, tetapi juga sungguh-sungguh hidup bersama Tuhan. Sebab ketika hati kita terlebih dahulu tinggal dalam Hati Kristus, tangan kita akan mampu melayani dengan kasih yang lebih murni.

Doa:

Tuhan Yesus, di tengah kesibukan hidup kami, ajarlah kami berhenti dan mendengarkan-Mu. Ketika hati kami penuh kecemasan, berikanlah kedamaian. Ketika kami lelah melayani, pulihkanlah kekuatan kami. Ketika kami kecewa, sembuhkanlah hati kami. Ketika kami jatuh dalam dosa, tuntunlah kami kembali kepada-Mu.

Seperti Santo Paulus, ubahlah hidup kami menjadi kesaksian tentang rahmat-Mu.
Seperti Maria, ajarlah kami memilih bagian yang terbaik: tinggal dekat dengan-Mu dan mendengarkan Sabda-Mu.

Berkatilah keluarga-keluarga, anak-anak, OMK, para pelayan pastoral, DPP, para pengurus wilayah rohani, kategorial serta seluruh umat Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan. Semoga dari keheningan doa lahir pelayanan yang penuh kasih; dari perjumpaan dengan Kristus lahir keberanian untuk melayani; dan dari Hati Kudus Yesus mengalirlah belas kasih bagi setiap orang yang kami jumpai. Hati Kudus Yesus, jadikanlah hati kami serupa dengan Hati-Mu. Amin.

Bagikan Informasi Ini:

WhatsApp Facebook