Opini & Refleksi

Ruang tulisan, gagasan, dan opini umat serta pelayan pastoral Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan.

Menampilkan 4 dari total 4 artikel opini (Halaman 1 dari 1).
Merawat Hati, Membenahi Rumah Bersama: Refleksi 59 Tahun Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan
Opini 15 Oct 2026 • đŸ‘ïž 616

Merawat Hati, Membenahi Rumah Bersama: Refleksi 59 Tahun Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan

Merayakan ulang tahun ke-59 bukanlah sekadar ritual meniup lilin atau memotong tumpeng, melainkan sebuah jeda eksistensial untuk memeriksa detak nadi sebuah komunitas. Sejak berdiri pada 15 Oktober 1967 hingga menapaki usia 59 tahun pada 15 Oktober 2026, Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Karombasan telah menjadi rahim rohani bagi ribuan umatnya. Syukur dan proficiat yang mendalam tentu pantas dilambungkan ke hadirat Allah. Namun, euforia perayaan tidak boleh menina-bobokkan nalar kritis kita. Layaknya sebuah rumah yang telah berdiri lebih dari setengah abad, Paroki HKY Karombasan membutuhkan audit menyeluruh—baik secara teologis, filosofis, maupun sosiologis—untuk memastikan apakah bangunan ini masih berdiri kokoh di atas batu karang pelayanan, atau mulai keropos digerogoti rayap-rayap klerikalisme, apatisme, dan inefisiensi manajerial. Di era sinodalitas yang digaungkan Paus Fransiskus, perayaan ini memanggil kita untuk menatap cermin batin gereja: sudahkah paroki ini benar-benar memancarkan kasih Hati Kudus Yesus yang merangkul, melayani, dan membebaskan? Refleksi Multidimensi: Dari Altar hingga Realitas Sosial Membaca realitas Paroki HKY Karombasan di usia ke-59 menuntut pisau bedah yang tajam dan multidimensi. Secara teologis dan biblis, Hati Kudus Yesus adalah simbol cinta tanpa syarat (kenosis) di mana Kristus mengosongkan diri-Nya demi manusia (Filipi 2:7). Paroki yang berlindung di bawah nama ini seharusnya menjadi episentrum pelayanan yang rendah hati. Namun, kenyataannya sering kali paradoks. Relasi antara gembala (pastor) dan domba (umat) terkadang melenceng dari teladan pembasuhan kaki (Yohanes 13:1-17). Secara filosofis dan etis, kita dihadapkan pada imperatif kategoris Immanuel Kant yang menegaskan bahwa manusia harus diperlakukan sebagai tujuan, bukan alat (Kant, 1998). Sayangnya, dalam praksis menggereja, godaan untuk saling memanfaatkan sangat nyata. Tidak boleh lagi ada klerus yang memanfaatkan kedekatan dengan umat untuk mengamankan kenyamanan pribadi—sebuah penyakit yang oleh Paus Fransiskus (2013) dikutuk keras sebagai klerikalisme. Sebaliknya, tidak boleh pula ada sekelompok umat atau elite paroki yang memanipulasi kepolosan atau kelemahan manusiawi pastor paroki demi memperluas pengaruh pribadi atau keuntungan finansial. Aspek psikologis dan antropologis menyingkap realitas yang tak kalah ironis. Manusia memiliki kebutuhan dasar akan pengakuan (Maslow, 1943). Di paroki, hasrat ini kerap menjelma menjadi "penyakit panggung". Banyak umat berlomba-lomba menduduki jabatan struktural di Dewan Pastoral Paroki (DPP), kelompok kategorial, maupun di tingkat Wilayah Rohani. Sayangnya, semangat untuk meraih posisi ini tidak berbanding lurus dengan kemauan untuk bekerja. Pemahaman terhadap job description atau rincian tugas sangat minim. Akibatnya, organisasi paroki menjadi gemuk di atas kertas tetapi lumpuh dalam tindakan (lumpuh layu). Fenomena ini, secara sosiologis dan politis, menciptakan oligarki kecil di dalam gereja, di mana segelintir orang mendominasi ruang kepemimpinan tanpa menghasilkan dampak nyata bagi bonum commune (kebaikan bersama). Secara yuridis, Hukum Kanonik (KHK) secara tegas mengatur tata kelola harta benda Gereja (Kan. 1284), menuntut para administrator untuk bertindak seperti "bapak keluarga yang baik" (Coriden et al., 1985). Hal ini berarti transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi umat bukanlah sekadar imbauan moral, melainkan kewajiban hukum yang mengikat. Urgensi dari refleksi multidimensi ini adalah mencegah Paroki HKY Karombasan berubah menjadi "museum rohani" yang megah bangunannya tetapi kosong jiwa pelayanannya. Akar Penyakit Menggereja: Apatisme, Hasrat Panggung, dan Disorientasi Pelayanan Evaluasi paling mendesak di usia ke-59 ini menyentuh urat nadi kehidupan liturgi dan partisipasi umat. Ada sebuah ironi besar yang berulang tahun demi tahun: kelompok-kelompok koor dari paroki ini sering kali memenangkan berbagai perlombaan di tingkat luar, pulang membawa piala dan kebanggaan. Bahkan, lomba koor internal paroki pun marak digelar dan selalu ramai. Namun, secara tragis, koor paroki untuk Misa hari Minggu justru sering terbengkalai atau "tidak jalan". Mentalitas homo festivus (manusia perayaan) lebih mendominasi daripada homo religiosus (manusia religius). Koor dilihat sebagai ajang pembuktian gengsi dan kompetisi, bukan sebagai ministerium (pelayanan) murni untuk membantu umat berdoa (Martasudjita, 2011). Perlombaan-perlombaan tersebut belum berdampak maksimal pada kontribusi nyata bagi koor paroki sehari-hari. Penyakit kedua adalah sikap apatis umat secara umum. Terdapat kecenderungan umat bersikap acuh tak acuh dan enggan terlibat dalam kehidupan menggereja. Gereja hanya dianggap sebagai "pompa bensin rohani" yang dikunjungi seminggu sekali tanpa ada rasa memiliki. Di era di mana informasi berjalan secepat kilat, umat justru malas membaca dan memanfaatkan website serta media sosial paroki. Akibatnya, komunikasi sering putus, dan program pastoral jalan di tempat. Disorientasi pelayanan juga terlihat pada lemahnya pendampingan kategorial. Terkesan ada ketimpangan perhatian yang diberikan kepada kelompok-kelompok kategorial tertentu, baik dalam hal pembinaan maupun alokasi anggaran. Seharusnya, pastor paroki bersama Tim Katekese Paroki memberikan pendampingan, pembekalan, dan katekese rutin yang merata. Sayangnya, sarana-sarana untuk pewartaan di era digital belum memadai. Katekese digital, termasuk pemanfaatan video dan live streaming (podcast), belum digarap secara serius dan maksimal. Padahal, Gereja dituntut untuk masuk ke "benua digital" demi menjangkau umat, terutama kaum muda yang menghabiskan sebagian besar waktunya di dunia maya (Spadaro, 2014). Tata Kelola Zaman Now: Transparansi, Akuntabilitas, dan Gereja yang Membumi Persoalan yang tak kalah krusial di usia ke-59 ini adalah tata kelola administrasi dan keuangan. Umat modern adalah umat yang kritis dan rasional. Kepercayaan mereka hanya bisa dijaga melalui transparansi dan akuntabilitas. Pengelolaan keuangan paroki, mulai dari kolekte rutin hingga dana pembangunan aula paroki, harus dilaporkan secara terbuka, periodik, dan mudah diakses oleh umat. Penataan administrasi surat-menyurat tidak boleh dianggap remeh. Setiap surat masuk dan keluar yang memiliki implikasi terhadap keluar-masuknya anggaran harus dicatat secara ketat, profesional, dan dapat dipertanggungjawabkan (akuntabel). Pembangunan aula paroki yang sedang berjalan, beserta rencana pengelolaannya ke depan, menuntut manajemen yang profesional dan partisipatif. Aula paroki adalah aset bersama, bukan milik pribadi segelintir pengurus. Oleh karena itu, harus ada ruang dialog yang sehat dan setara antara pastor, DPP, dan umat HKY Karombasan mengenai arah kelanjutan pembangunan dan model pengelolaannya. Mengelola aset-aset paroki di zaman modern tidak bisa lagi mengandalkan manajemen kekeluargaan yang tertutup, melainkan harus menggunakan standar profesionalisme yang tinggi. Lebih jauh dari sekadar urusan batu dan semen, pembangunan sejati haruslah mengarah pada pembangunan manusia. Di sinilah letak urgensi penguatan seksi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE). Paroki HKY Karombasan tidak boleh menutup mata terhadap penderitaan konkret umatnya. Anggaran dan program paroki harus diarahkan untuk membantu pendidikan anak-anak yang terancam putus sekolah dan menopang keluarga-keluarga yang kurang mampu secara ekonomi (O'Brien & Shannon, 2010). Ajaran Sosial Gereja secara tegas menuntut preferential option for the poor (keberpihakan kepada kaum miskin). Jika paroki mampu mengumpulkan dana miliaran untuk membangun aula fisik, menjadi sangat tidak etis dan kehilangan roh injilinya jika paroki gagal menyisihkan dana untuk menyelamatkan masa depan pendidikan anak-anak umat yang miskin. Sinkronisasi dan Solusi: Menuju Paroki yang Hidup dan Terbuka Berdasarkan evaluasi kritis di atas, ulang tahun ke-59 ini harus menjadi titik balik (pertobatan pastoral) bagi Paroki HKY Karombasan. Pertama, dalam hal relasi klerus dan awam, harus dibangun budaya sinodal yang egaliter. Pastor dan umat adalah mitra sejajar di ladang Tuhan. Segala bentuk elitisme dan oportunisme harus dipangkas melalui evaluasi kinerja yang transparan di tubuh DPP dan kelompok kategorial. Mereka yang hanya mencari "panggung" tanpa mau bekerja secara konkret harus direstrukturisasi. Setiap seksi dan jabatan harus dilengkapi dengan job description yang jelas dan terukur. Kedua, soal liturgi dan katekese digital. Perlu ada regulasi internal yang menyaratkan setiap kelompok koor kategorial atau wilayah yang ingin berlomba ke luar untuk terlebih dahulu memenuhi konbtribusi dan kewajiban pelayanan koor mingguan di paroki. Selain itu, paroki harus segera membentuk tim media komunikasi (Komsos) yang berisi kaum muda kreatif untuk memaksimalkan website, media sosial, podcast, dan live streaming sebagai ujung tombak katekese digital yang menarik dan relevan. Ketiga, terkait tata kelola dan sinkronisasi. Program kerja Paroki HKY Karombasan, dalam implementasinya tidak boleh berjalan sendiri (eksklusif), melainkan harus terintegrasi dan bersinkronisasi secara penuh dengan Rencana Strategis (Renstra) Keuskupan Manado. Sinkronisasi ini memastikan bahwa paroki berjalan seiring dengan visi besar keuskupan. Transparansi keuangan harus diwujudkan dengan mempublikasikan laporan neraca keuangan dan progres pembangunan aula melalui papan pengumuman, buletin cetak, dan situs web paroki agar bisa dibaca seluruh umat. Keempat, perwujudan kasih Hati Kudus Yesus melalui keadilan distributif. Perhatian dan alokasi anggaran paroki harus adil bagi semua kelompok kategorial. Dana paroki juga harus difokuskan pada program beasiswa anak sekolah dan pemberdayaan ekonomi keluarga miskin melalui PSE. Pada akhirnya, di usia 59 tahun ini, Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan diajak untuk kembali merawat hati. Sebuah hati yang tidak berfokus pada kemegahan duniawi, egoisme sektoral, atau gengsi kompetisi, melainkan hati yang berdetak seirama dengan denyut nadi penderitaan, kerinduan, dan harapan umatnya. Hanya dengan membenahi tata kelola "rumah bersama" ini secara transparan, akuntabel, dan partisipatif, Paroki HKY Karombasan akan sungguh-sungguh menjadi oase rohani yang hidup, membebaskan, dan relevan di tengah arus perubahan zaman. Proficiat 59 Tahun Paroki HKY Karombasan! (*) Tulisan ini juga dipublikasi secara online di Kolom HIDUP Katolik, 16 Oktober 2026. Oleh: Herkulaus Mety, S.Fils., M.PdAlumnus STF Seminari Pineleng dan IAIN Manado; Ketua Tim Katekese Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan Referensi: Coriden, J. A., Green, T. J., & Heintschel, D. E. (Eds.). (1985). The Code of Canon Law: A Text and Commentary. Paulist Press. Kant, I. (1998). Groundwork of the Metaphysics of Morals (M. Gregor, Trans.). Cambridge University Press. (Karya asli diterbitkan 1785). Martasudjita, E. (2011). Liturgi: Pengantar untuk Studi dan Praksis Liturgi. Penerbit Kanisius. Maslow, A. H. (1943). A Theory of Human Motivation. Psychological Review, 50(4), 370-396. O'Brien, D. J., & Shannon, T. A. (Eds.). (2010). Catholic Social Thought: The Documentary Heritage. Orbis Books. Paus Fransiskus. (2013). Evangelii Gaudium [Sukacita Injil]. Dokpen KWI. Spadaro, A. (2014). Cybertheology: Thinking Christianity in the Era of the Internet. Fordham University Press.

Oleh Herkulaus Mety Baca Opini →
Sabda di Belantara Maya: Menyemai Kebenaran di Era "Post-Truth"
Opini 03 Oct 2026 • đŸ‘ïž 243

Sabda di Belantara Maya: Menyemai Kebenaran di Era "Post-Truth"

Kita hidup di sebuah zaman yang riuh, di mana informasi mengalir lebih deras dari arus sungai, namun dahaga manusia akan kebenaran justru semakin mencekik. Setiap pagi, sebelum mata sepenuhnya terbuka, jari-jari kita telah lebih dulu menyentuh layar gawai, menyelami samudra maya yang penuh dengan kilauan berita, opini, dan narasi. Sayangnya, kita tidak sedang berenang di lautan kejernihan, melainkan terjebak dalam pusaran post-truth atau pasca-kebenaran—sebuah era di mana fakta objektif kehilangan tajinya, kalah oleh daya tarik emosi dan keyakinan pribadi. Di tengah labirin digital yang kerap kali bising oleh hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi ini, sebuah pertanyaan mendasar mengemuka: bagaimana pewartaan Injil—Kabar Baik yang memerdekakan—harus disuarakan? Layar gawai kini telah bertransformasi menjadi mimbar baru, dan kita ditantang untuk merumuskan kembali cara menyapa manusia modern dengan cerdas, elegan, dan penuh kasih. Akar Sabda dan Paradoks Pasca-Kebenaran Secara teologis dan biblis, hakikat pewartaan Injil berakar pada peristiwa Inkarnasi, di mana "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita" (Yohanes 1:14). Prinsip Inkarnasi menuntut kehadiran yang nyata, berwujud, dan menyentuh realitas keseharian. Namun, era digital membawa tantangan filosofis yang serius. Ruang maya menciptakan realitas yang tercerabut dari ketubuhan (disembodied), mengubah interaksi tatap muka menjadi lalu lintas teks dan piksel (Spadaro, 2014). Di sinilah letak tegangan teologisnya: bagaimana menghadirkan Sabda yang "menubuh" di dalam dunia yang sepenuhnya "virtual"? Lebih jauh, dari kacamata filosofis, era post-truth mengacaukan epistemologi kita tentang kebenaran. McIntyre (2018) menegaskan bahwa dalam era pasca-kebenaran, kebenaran tidak lagi disepakati berdasarkan bukti, melainkan dikonstruksi oleh tribalisme dan preferensi emosional. Kabar Baik yang mengklaim diri sebagai Jalan, Kebenaran, dan Hidup, tiba-tiba dihadapkan pada etalase pasar bebas ideologi, di mana ia kerap direduksi sekadar menjadi "salah satu dari sekian banyak opini." Pewartaan injil hari ini tidak bisa lagi sekadar mengutip ayat secara kaku, melainkan harus masuk ke dalam dialog yang menghargai rasionalitas sekaligus menyentuh kekosongan eksistensial manusia. Jika Injil tidak diwartakan dengan kebijaksanaan filosofis dan kedalaman teologis, ia hanya akan menjadi sepotong konten clickbait yang numpang lewat di beranda media sosial, kehilangan daya ubahnya, dan tenggelam dalam algoritma kesia-siaan. Labirin Makna dan Keterasingan Manusia Digital Menilik dari sudut pandang antropologis dan psikologis, manusia hari ini telah berevolusi menjadi homo digitalis. Batas antara kehidupan di dunia maya dan dunia nyata telah lebur menjadi apa yang disebut oleh Floridi (2014) sebagai pengalaman onlife. Secara sosial dan antropologis, kita terkoneksi dengan ribuan orang di belahan bumi lain, namun secara tragis sering kali tidak mengenali siapa tetangga di sebelah rumah kita. Manusia membangun identitas dan mencari pengakuan melalui tombol "suka" (like) dan jumlah pengikut (followers), menjadikan media sosial sebagai panggung teater tempat ego dipamerkan. Secara psikologis, fenomena ini melahirkan kecemasan kronis, sindrom FOMO (Fear of Missing Out), dan rasa kesepian yang mendalam di tengah keramaian artifisial (Turkle, 2011). Kehausan akan makna ini adalah ruang kosong yang sangat membutuhkan sentuhan pastoral. Pewartaan Injil di era digital harus menyasar pada luka-luka psikologis ini. Kabar Baik harus diterjemahkan sebagai pelukan kasih yang mengafirmasi bahwa nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh seberapa viral kontennya, melainkan oleh martabatnya sebagai gambar dan rupa Allah (Imago Dei). Secara sosial, algoritma media sosial cenderung mengurung kita dalam ruang gema (echo chambers), di mana kita hanya mendengar apa yang ingin kita dengar dan berkumpul dengan orang yang sepaham (Sunstein, 2017). Pewartaan Injil ditantang untuk mendobrak sekat-sekat kesukuan digital ini, menumbuhkan budaya perjumpaan, dan merajut kembali kohesi sosial yang koyak oleh algoritma polarisasi. Etika Jempol, Politik Narasi, dan Batas Yuridis Tantangan pewartaan menjadi kian kompleks ketika kita memasukkan dimensi etis, politis, dan yuridis. Secara etis, media sosial sering kali melunturkan empati. Jari kita dengan begitu mudah mengetikkan komentar pedas atau menyebarkan fitnah karena kita tidak melihat langsung wajah orang yang kita sakiti. Etika Kristiani tentang "kasihilah sesamamu manusia" harus diperluas menjadi "kasihilah sesama warganet-mu". Jempol yang kita gunakan untuk membagikan tautan memiliki konsekuensi moral yang nyata. Setiap kali kita membagikan hoaks, kita sedang melanggar perintah untuk tidak mengucapkan saksi dusta. Dari kacamata politis, kebohongan dan narasi post-truth kerap kali diproduksi secara terstruktur dan masif sebagai komoditas politik untuk meraih kekuasaan, memanipulasi ketakutan publik, dan menunggangi sentimen agama (Farkas & Schou, 2019). Dalam konteks ini, pewartaan Injil memiliki fungsi profetis (kenabian). Gereja dan pewarta sabda harus berani mengambil sikap politik kebangsaan yang jernih: menolak menjadi agen penyebar kebencian, melawan politisasi SARA, dan menjadi penjaga kewarasan publik. Secara yuridis, negara mencoba mengatur lalu lintas informasi ini melalui berbagai regulasi, seperti Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) di Indonesia. Hukum positif ini berupaya menjerat penyebar kebohongan dan ujaran kebencian. Bagi pewarta Injil, hukum negara ini harus dihormati, namun kerangka etis pewartaan tidak boleh sekadar dimotivasi oleh ketakutan pada jerat pasal yuridis. Ketaatan pewarta pada hukum bukan sekadar ketaatan legalistik, melainkan bentuk pertanggungjawaban etis untuk menciptakan ruang publik maya yang berkeadilan, damai, dan tidak merendahkan martabat orang lain. Urgensi, Relevansi, dan Solusi Pastoral di Era Digital Memahami seluruh lanskap yang rumit ini, urgensi dan relevansi pewartaan Injil di ruang digital tidak bisa ditawar lagi. Jika mereka yang membawa pesan kebenaran memilih untuk diam atau eksklusif di dalam tembok gereja fisik, maka ruang maya akan sepenuhnya dikuasai oleh narasi kebencian, radikalisme, dan konsumerisme yang banal. Relevansi Kekristenan di abad ke-21 sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk berinkarnasi di benua digital (Campbell, 2012). Pesan keselamatan tetap sama, namun metode, bahasa, dan mediumnya harus beradaptasi dengan budaya pop dan logika algoritma, tanpa harus mengorbankan kesucian pesannya. Sebagai solusi dan langkah pastoral, ada beberapa hal konkret yang harus dilakukan. Pertama, literasi digital berbasis nilai teologis. Umat tidak hanya diajari cara membaca Alkitab, tetapi juga diajari cara membaca berita, membedakan mana kebenaran dan mana fabrikasi, serta membekali diri dengan kekritisan. Kedua, mewujudkan orang Samaria yang baik hati di ruang maya. Artinya, pewartaan Injil bukan semata-mata tentang memproduksi ayat Alkitab dalam bentuk infografis, melainkan tentang bagaimana warganet beriman bersikap solider ketika melihat ada yang dirundung (cyberbullying) di media sosial, atau berani meluruskan hoaks di grup percakapan keluarga dengan sabar dan lembut. Ketiga, menciptakan konten yang otentik dan reflektif. Di tengah dunia yang kelelahan oleh kepalsuan, kejujuran dan kerapuhan (vulnerability) justru menjadi kesaksian yang kuat. Konten yang membumi, yang berbicara tentang pergumulan hidup sehari-hari dengan kacamata iman, akan lebih menyentuh hati manusia modern daripada dogma yang dikemas secara kaku. Pada akhirnya, pewartaan Injil di era digital dan pasca-kebenaran bukanlah tentang seberapa keras kita berteriak di media sosial, melainkan tentang seberapa nyata kualitas kasih yang kita hadirkan di tengah lalu lintas informasi. Di belantara maya yang riuh ini, sabda kebenaran harus disemai bukan dengan jempol yang congkak, melainkan dengan hati yang berbelarasa. Sebab di ujung layar mana pun, selalu ada manusia nyata yang merindukan sapaan kasih yang sejati. (*) Oleh: Herkulaus Mety, S.Fils., M.Pd; Alumnus STF Seminari Pineleng dan Pascasarjana IAIN Manado; Ketua Tim Katekese Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan.

Oleh Herkulaus Mety Baca Opini →
Oase Spiritual di Jantung Sekularisme: Resonansi Pesan Paus Leo XIV
Opini 30 Sep 2026 • đŸ‘ïž 302

Oase Spiritual di Jantung Sekularisme: Resonansi Pesan Paus Leo XIV

Prancis sering kali disebut sebagai "Putri Sulung Gereja" (la fille aĂźnĂ©e de l'Église), namun sekaligus menjadi rahim bagi lahirnya sekularisme ekstrem yang menyingkirkan agama dari ruang publik. Di tengah lanskap sosial yang acap kali dingin dan berjarak terhadap hal-hal transenden inilah, kunjungan apostolik Paus Leo XIV pada 25-28 September 2026 menorehkan sebuah anomali sejarah yang memukau. Dengan mengusung tema "Agar dunia memiliki hidup", kehadiran Bapa Suci seolah membelah lautan sekularitas. Bagaimana tidak, lebih dari 700.000 umat tumpah ruah dalam misa akbar di Paris, 50.000 peziarah menyalakan lilin harapan dan mendaraskan rosario di Gua Maria Lourdes, serta 80.000 orang muda Katolik (OMK) bersorak menyambut gembala mereka di Stade de France.   Peristiwa ini bukan sekadar euforia emosional sesaat, melainkan sebuah teks sosiologis dan spiritual yang kaya makna. Lantas, apa signifikansi dan resonansi dari rentetan peristiwa di Eropa tersebut bagi kita di Indonesia, khususnya bagi umat Katolik di Sulawesi Utara, Kota Manado, dan secara lebih spesifik bagi dinamika iman di Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Karombasan yang hanya bisa meresapi momen tersebut melalui layar kaca dan gawai? Paradoks Sekularisme dan Dahaga Eksistensial Secara yuridis dan politis, sejak berlakunya Undang-Undang 1905, Prancis memegang teguh prinsip laĂŻcitĂ© (sekularisme negara) yang memisahkan urusan agama dari ranah publik dengan sangat tegas (Casanova, 1994). Secara sosial dan filosofis, masyarakat Eropa modern digambarkan oleh filsuf Charles Taylor (2007) hidup dalam "bingkai imanen" (immanent frame), di mana segala sesuatu dijelaskan tanpa merujuk pada Tuhan. Agama dianggap sebagai relik masa lalu yang akan perlahan mati oleh kemajuan rasionalitas. Namun, ledakan ratusan ribu umat di Paris, Lourdes, dan Stade de France membongkar keangkuhan tesis sekularisasi tersebut. Secara antropologis dan psikologis, manusia pada dasarnya adalah homo religiosus—makhluk yang secara kodrati memiliki kehausan akan yang ilahi. Kemajuan teknologi dan jaminan kesejahteraan negara nyatanya gagal mengisi kekosongan batin (psikologis) masyarakat modern. Kehadiran 80.000 kaum muda di Stade de France adalah jeritan eksistensial bahwa generasi muda lelah dengan budaya individualisme. Mereka mencari koneksi, makna, dan akar. Di sinilah kepiawaian Paus Leo XIV; beliau tidak datang untuk berdebat soal hukum negara, melainkan menyentuh luka batin manusia modern yang terasing, menawarkan pelukan keibuan Gereja yang menghangatkan. Teologi Kehidupan Melawan "Budaya Kematian" Tema "Agar dunia memiliki hidup" berakar kuat pada refleksi biblis Injil Yohanes 10:10, di mana Kristus datang agar manusia memiliki hidup dalam kelimpahannya (zoe). Secara teologis dan etis, pesan Paus Leo XIV di Prancis merupakan sebuah kritik tajam terhadap apa yang pernah disebut oleh Paus Yohanes Paulus II (1995) sebagai "budaya kematian" (culture of death). Di Eropa, budaya ini termanifestasi dalam legalisasi aborsi, eutanasia, alienasi sosial, hingga perusakan ekologis. Gua Maria Lourdes menjadi antitesis dari budaya tersebut. Ketika 50.000 orang berarak dengan pawai lilin dan doa rosario, mereka mempraktikkan teologi kerentanan. Di Lourdes, yang sakit, cacat, dan terpinggirkan diletakkan di barisan paling depan. Ini adalah tamparan etis bagi dunia yang kerap hanya menghargai manusia dari produktivitas ekonomi dan kesempurnaan fisiknya semata. Pesan Paus sangat jelas: hidup manusia itu suci dari awal hingga akhir. Kesembuhan yang ditawarkan bukan sekadar mukjizat fisik, melainkan kesembuhan psikologis dan pemulihan martabat kemanusiaan yang sering kali dirampas oleh struktur dunia yang tidak adil. Resonansi Digital: Dari Paris ke Paroki HKY Karombasan Bagi umat Katolik di Indonesia, Sulawesi Utara, Kota Manado, dan khususnya di Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Karombasan, kunjungan ini disaksikan dari kejauhan melintasi benua dan zona waktu. Umat hanya terhubung melalui siaran live streaming di YouTube atau televisi. Secara sekilas, ada keterputusan fisik. Namun, meminjam konsep teologi sibernetika (Spadaro, 2014), ruang digital mampu memfasilitasi "komuni spiritual" yang nyata. Layar kaca tidak mereduksi kesakralan, melainkan memperluas tenda perjumpaan gereja hingga ke ruang-ruang keluarga di Karombasan. Konteks sosial di Sulawesi Utara, khususnya Manado, sangat bertolak belakang dengan Prancis. Jika di Prancis agama disembunyikan di ruang privat, di Manado, agama sangat riuh di ruang publik. Kekristenan menyatu dengan budaya lokal, mewarnai setiap sudut kehidupan masyarakat. Namun, hal ini membawa tantangan tersendiri. Urgensinya bagi umat di Manado dan Paroki HKY Karombasan adalah bahaya terjebak pada "rutinitas ritualistis" dan "selebrasi dangkal" tanpa pendalaman makna. Melihat semangat umat di Prancis yang rela menembus tembok sekularisme demi merayakan iman, umat Paroki HKY Karombasan ditantang untuk merefleksikan kualitas iman mereka. Apakah kemudahan beribadah di Manado membuat kita terlena dan kurang militan dalam menghidupi ajaran kasih? Tema "Agar dunia memiliki hidup" menuntut umat Karombasan untuk keluar dari zona nyaman gereja batu, menuju gereja jalanan; menjadi pembawa kehidupan bagi tetangga yang kesusahan, menjaga kerukunan antarumat beragama di Kota Manado, serta merawat lingkungan alam Sulawesi Utara yang kian terancam eksploitasi. Bagi kaum muda di Manado dan OMK HKY Karombasan, 80.000 pemuda di Stade de France adalah cermin. Generasi muda Manado saat ini dihadapkan pada tantangan yang berbeda namun sama mematikannya: budaya hedonisme, pergaulan bebas, krisis identitas, hingga ancaman narkotika dan minuman keras. Paus Leo XIV mengingatkan bahwa hidup sejati tidak ditemukan di dasar botol alkohol atau validasi semu di media sosial, melainkan dalam perjumpaan personal dengan Kristus yang menggerakkan kita untuk mencintai sesama. Urgensi dan Solusi Pastoral di Akar Rumput Merespons momen bersejarah ini, ada beberapa langkah pastoral taktis dan solusi yang bisa diterapkan di tingkat lokal, khususnya bagi Paroki HKY Karombasan, agar pesan Paus Leo XIV tidak menguap sekadar menjadi tontonan media: Pertama, revitalisasi spiritualitas kaum muda. OMK Karombasan tidak boleh hanya dijadikan "panitia acara" dalam kegiatan paroki. Mereka harus didampingi secara psikologis dan spiritual. Gereja harus menjadi ruang yang aman ( safe space) bagi orang muda untuk membagikan kegelisahan eksistensial mereka di tengah tekanan modernitas. Buatlah forum-forum dialog yang jujur, santai, namun mendalam, menyerupai semangat perjumpaan di Stade de France. Kedua, menghidupi pelayanan sosial yang konkret (diakonia). Belajar dari Lourdes yang memusatkan perhatian pada penderitaan manusia, Paroki HKY Karombasan perlu semakin mempertajam program-program karitatifnya. Membawa "hidup" berarti gereja hadir memecahkan masalah kemiskinan kota, memberi pendampingan bagi keluarga yang retak, dan membantu mereka yang terpinggirkan secara ekonomi di sekitar Manado. Ketiga, literasi digital berbasis iman. Karena momen kunjungan Paus ini diakses umat murni melalui media, penting bagi paroki untuk mengajarkan literasi media dan iman. Bagaimana menjadikan media sosial sebagai mimbar pewartaan nilai-nilai kehidupan ( pro-life dalam arti luas), menyebarkan pesan damai, dan menangkal hoaks yang merusak tenun kebangsaan kita di Indonesia. Keempat, menumbuhkan budaya doa hening. Di tengah masyarakat Manado yang komunal dan dinamis, umat perlu belajar dari keteduhan pawai lilin di Lourdes. Praktik devosi rosario dan adorasi sakramen mahakudus perlu terus dihidupkan sebagai oase untuk menenangkan psikis manusia modern yang terus dikejar kesibukan, sehingga umat mampu mendengarkan suara Tuhan dengan jernih. Kesimpulan Kunjungan apostolik Paus Leo XIV ke Prancis di akhir September 2026 adalah sebuah epik spiritual yang membuktikan bahwa iman tidak bisa dimatikan oleh regulasi sekuler atau pesimisme zaman. Bagi umat Katolik di Indonesia, Sulawesi Utara, dan lebih dekat lagi di Paroki HKY Karombasan, ini adalah panggilan untuk bangun dari kelumpuhan rohani. Melalui layar gawai yang memancarkan peristiwa agung tersebut, Roh Kudus sejatinya sedang meniupkan napas baru ke Karombasan. Tugas kita kini hanya satu: memastikan bahwa setelah layar televisi dimatikan, kitalah yang bergerak keluar, menjadi tangan dan kaki Kristus, agar dunia—dimulai dari keluarga, lingkungan, dan kota kita—benar-benar memiliki hidup. (*)   Oleh: Herkulaus Mety, S.Fils., M.Pd Alumnus STF Seminari Pineleng dan Pascasarjana IAIN Manado; Ketua Tim Katekese Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan.

Oleh Herkulaus Mety Baca Opini →
Ziarah Makna di Jantung Sekularisme: Membaca Kunjungan Apostolik Paus Leo di Prancis
Opini 27 Sep 2026 • đŸ‘ïž 277

Ziarah Makna di Jantung Sekularisme: Membaca Kunjungan Apostolik Paus Leo di Prancis

Musim gugur di Prancis tahun ini membawa embusan angin yang terasa berbeda. Dari tanggal 25 hingga 28 September 2026, mata dunia tertuju pada langkah-langkah tenang Paus Leo XIV yang membelah jalanan salah satu negara dengan tradisi sekularisme paling kokoh di dunia. Kunjungan apostolik ini bukanlah sekadar lawatan diplomatik biasa atau tur seremonial keagamaan. Di balik senyum dan sapaan sang Pontifex, tersimpan sebuah diskursus mendalam yang mempertemukan kembali dua entitas yang kerap dianggap berseteru: nalar sekuler dan iman religius. Prancis, yang selama ini bangga dengan prinsip laĂŻcitĂ© (pemisahan tegas agama dan negara), kini menjadi panggung bagi sebuah dialog peradaban yang memikat. Langkah Paus Leo XIV di tanah ini mengundang kita untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia modern, dan merenungkan kembali apa artinya menjadi manusia di tengah zaman yang semakin kehilangan arah. Kunjungan ini adalah sebuah oase reflektif—sebuah ziarah makna yang mengetuk pintu kesadaran teologis, filosofis, hingga sosial-politik kita secara serentak.   Paradoks Sejarah dan Kedewasaan Politik Secara historis dan politis, hubungan antara Takhta Suci dan Prancis selalu dibumbui oleh dinamika cinta dan ketegangan. Prancis memegang gelar kehormatan kuno sebagai "Putri Sulung Gereja" (Fille aĂźnĂ©e de l'Église), merujuk pada pembaptisan Raja Clovis I pada abad ke-5 yang mengawali era kekristenan di Eropa Barat. Namun, Prancis pula yang melahirkan Revolusi 1789 dan mengesahkan Undang-Undang 1905 tentang pemisahan gereja dan negara, yang pada akhirnya meminggirkan agama murni ke ruang privat (Gemie, 2010). Di sinilah letak kejeniusan politis dan sosial dari kunjungan Paus Leo XIV. Ia datang bukan sebagai penakluk yang ingin merebut kembali kejayaan masa lalu, melainkan sebagai seorang sahabat yang menawarkan kedewasaan berdialog. Di tengah iklim politik Eropa yang kerap memanas akibat isu identitas dan migrasi, kehadiran Paus menjadi pengingat bahwa sekularisme tidak seharusnya bermutasi menjadi ketakutan terhadap agama (secularist fundamentalism). Sebagaimana dicatat oleh filsuf Charles Taylor, masyarakat sekuler modern sering kali terjebak dalam "kerangka imanen" yang tertutup, yang justru memiskinkan imajinasi sosial mereka (Taylor, 2007). Dalam konteks ini, Paus Leo XIV menunjukkan bahwa agama dan ruang publik dapat berjalan beriringan. Ia memposisikan umat Katolik di Prancis bukan sebagai kelompok eksklusif yang menuntut hak istimewa, melainkan sebagai warga negara yang berkontribusi aktif bagi kebaikan bersama (bonum commune). Secara politis, pesan ini meredakan ketegangan; secara sosial, pesan ini merekatkan kembali tenun kebangsaan yang terkoyak oleh prasangka. Teologi Perjumpaan dan Oase Psikologis Dari sudut pandang teologis dan biblis, lawatan ini adalah perwujudan nyata dari "Gereja yang keluar" menuju daerah pinggiran, baik secara geografis maupun eksistensial. Pesan Paus Leo XIV di Prancis sangat kental dengan nuansa perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati (Lukas 10:25-37). Di negeri di mana kemajuan materi dan sains telah mencapai puncaknya, Paus menyoroti adanya kelumpuhan spiritual yang tak terlihat. Ia menyentuh luka-luka batin manusia modern yang diwarnai oleh alienasi, kesepian, dan kecemasan—sebuah fenomena yang secara psikologis merupakan konsekuensi dari hilangnya makna hidup (Frankl, 1985). Secara biblis, Paus mengajak umat untuk menjadi "garam dan terang" (Matius 5:13-16) bukan melalui dominasi kekuasaan, melainkan melalui pelayanan kasih yang rendah hati. Ia memperkenalkan teologi kenosis (pengosongan diri), di mana kebesaran iman tidak diukur dari kemegahan katedral, melainkan dari keberanian untuk merangkul mereka yang rapuh. Secara psikologis, pesan penggembalaan ini berfungsi sebagai semacam terapi massal. Di tengah masyarakat Prancis yang sering kali dijangkiti oleh kelelahan eksistensial akibat tekanan hiper-individualisme, narasi yang dibawa Paus menawarkan pelukan kehangatan. Ia mengingatkan bahwa manusia tidak diciptakan untuk menjadi individu yang terisolasi, melainkan mahluk relasional yang hanya akan menemukan keutuhannya dalam perjumpaan dengan sesama yang tulus. Etika Kepedulian dalam Tinjauan Filosofis dan Antropologis Kunjungan ini juga memaksa kita untuk masuk ke dalam ruang kontemplasi filosofis dan antropologis. Prancis adalah rumah bagi para pemikir besar, mulai dari rasionalisme RenĂ© Descartes, eksistensialisme Jean-Paul Sartre, hingga etika tanggung jawab Emmanuel Levinas. Dalam setiap sapaannya, Paus Leo XIV seakan berdialog dengan ruh para pemikir ini. Terhadap pandangan eksistensialis yang melihat kehidupan sebagai sesuatu yang absurd dan tanpa tujuan inheren, Paus menawarkan sebuah antropologi harapan. Manusia, menurut kacamata antropologi Kristiani, adalah homo religiosus—makhluk yang pada dasarnya memiliki kehausan tak terhingga akan Yang Ilahi, yang tidak akan pernah bisa dipuaskan oleh hal-hal duniawi semata (Eliade, 1957). Lebih jauh, secara etis, kunjungan ini menggemakan pemikiran filosofis Levinas tentang "Wajah Sang Liyan" (The Face of the Other). Levinas berpendapat bahwa etika dimulai saat kita berhadapan dengan wajah orang lain, yang menuntut tanggung jawab tanpa batas dari kita (Levinas, 1969). Dalam kunjungan ini, Paus Leo XIV mempraktikkan etika tersebut dengan menjumpai kaum migran, kaum miskin, dan mereka yang terpinggirkan di sudut-sudut kota Prancis. Tindakan ini merupakan sebuah protes diam-diam namun memekakkan telinga terhadap "budaya v?t-membuang" (budaya membuang barang dan manusia) yang sering kali tak disadari telah mewabah di negara-negara maju. Secara filosofis, Paus sedang meletakkan dasar bagi sebuah kemanusiaan baru, di mana martabat manusia tidak diukur dari utilitas atau sumbangsih ekonominya, melainkan dari keberadaannya yang suci sejak dari lahir. Urgensi Kenabian dan Relevansi untuk Masa Depan Lalu, apa urgensi dan relevansi dari kunjungan apostolik 25-28 September 2026 ini bagi kita hari ini? Mengapa perjalanan empat hari ini memiliki bobot yang begitu berat? Jawabannya terletak pada krisis multidimensional yang tengah melanda dunia dan Eropa pada khususnya. Kita saat ini hidup di era di mana polarisasi merajalela, tembok-tembok perbatasan kembali didirikan, dan krisis ekologis mengancam masa depan bumi. Kehadiran Paus Leo XIV di Prancis memiliki fungsi kenabian (prophetic function). Prancis, sebagai salah satu motor utama Uni Eropa, memiliki pengaruh krusial dalam menentukan arah kebijakan global. Urgensinya sangat jelas: Paus ingin menyuntikkan "ruh" ke dalam tubuh Eropa yang perlahan mulai kaku karena birokrasi dan pragmatisme ekonomi. Ia mengingatkan kembali tentang nilai-nilai solidaritas, subsidiaritas, dan persaudaraan universal (human fraternity). Relevansinya tidak terbatas bagi umat Katolik saja, tetapi menyentuh seluruh insan yang berkehendak baik (Massaro, 2015). Di saat batas-batas ideologi dan politik gagal memberikan solusi komprehensif bagi penderitaan manusia, suara profetik yang lahir dari refleksi iman menjadi sangat esensial. Paus menunjukkan bahwa peradaban yang hanya dibangun di atas fondasi kemajuan teknologi dan sekularisme radikal, tanpa diimbangi oleh kompas etika-spiritual, akan rentan mengalami kebangkrutan moral. Pada akhirnya, Kunjungan Apostolik Paus Leo XIV ke Prancis ini adalah sebuah narasi cinta yang ditulis di atas kanvas sekularisme. Ia tidak datang untuk berdebat apalagi mengutuk. Sebaliknya, melalui refleksi teologis yang mendalam, pendekatan biblis yang membumi, kedalaman filosofis, simpati psikologis, dan kesadaran historis-politis yang tajam, Paus Leo XIV mengajak kita semua untuk kembali ke esensi terdalam kemanusiaan. Dari tanggal 25 hingga 28 September ini, di bawah langit musim gugur Prancis, dunia diingatkan kembali bahwa nalar dan iman adalah dua sayap yang dibutuhkan oleh jiwa manusia untuk terbang merengkuh kebenaran sejati. Dan di dalam penerbangan itulah, kita akan menemukan makna sejati dari kehidupan kita. (*)   Oleh: Herkulaus Mety, S.Fils., M.Pd Alumnus STF Seminari Pineleng dan Pascasarjana IAIN Manado; Ketua Tim Katekese Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan.

Oleh Admin Berita Baca Opini →