Mengetuk Pintu Allah dengan Iman: Belajar dari Ketekunan Santo Simeon
Renungan Harian Katolik – Kamis, 8 Oktober 2026 || Bacaan: Galatia 3:1-5; Luk 1:69-75; Lukas 11:5-13 || Peringatan Santo Simeon
Suadara-saudari terkasih...
Ada saat-saat dalam kehidupan ketika kita merasa doa kita seperti tidak didengar. Kita sudah berdoa, berusaha, menunggu, bahkan menangis dalam keheningan, tetapi keadaan seakan tidak berubah. Dalam Injil hari ini, Yesus justru mengajak kita untuk tidak berhenti mengetuk pintu hati Allah: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”
Ketekunan bukan berarti memaksa Allah memenuhi semua keinginan kita. Ketekunan adalah tanda bahwa kita tetap percaya ketika jawaban Tuhan belum terlihat. Allah bukan Bapa yang meninggalkan anak-anak-Nya. Yesus bahkan menegaskan bahwa Bapa di surga memberikan yang baik kepada mereka yang memohon, terlebih lagi Roh Kudus, sumber kekuatan dan pengharapan.
Pesan ini berhubungan erat dengan teguran Paulus kepada jemaat Galatia. Mereka telah memulai perjalanan iman dalam Roh, tetapi kemudian tergoda mengandalkan kekuatan manusia semata. Paulus mengingatkan bahwa kehidupan Kristiani tidak boleh kehilangan pusatnya: Kristus dan karya Roh Kudus.
Santo Simeon menghadirkan wajah iman yang sabar. Ia menantikan penggenapan janji Allah dan, ketika berjumpa dengan Yesus, ia mengenali keselamatan yang hadir dalam kesederhanaan seorang Anak. Ia mengajarkan bahwa orang beriman harus mampu menunggu tanpa kehilangan harapan dan berdoa tanpa kehilangan kepercayaan.
Bagi keluarga-keluarga Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan, sabda hari ini menjadi undangan konkret: jangan berhenti berdoa bersama. Ketika keluarga menghadapi persoalan ekonomi, kesehatan, pendidikan anak, konflik, pekerjaan, atau masa depan, jangan biarkan kesulitan membuat altar keluarga menjadi sunyi.
Saudara-saudari terkasih...
Apa yang perlu kita lakukan hari ini? Mari luangkan sedikit waktu untuk berdoa bersama keluarga. Sebutkan satu pergumulan keluarga, lalu serahkan kepada Tuhan. Hubungi satu anggota keluarga atau umat yang sedang mengalami kesulitan dan tawarkan bantuan nyata. Di lingkungan atau komunitas, jadilah pribadi yang membuka pintu bagi mereka yang membutuhkan.
Hari ini, marilah kita belajar mengetuk pintu Allah dengan tekun, tetapi sekaligus membuka pintu hati bagi sesama. Sebab doa yang sungguh-sungguh tidak hanya mengubah keadaan; doa pertama-tama mengubah hati kita agar semakin menyerupai hati Kristus.
Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk tidak mudah menyerah dalam doa. Teguhkan iman kami ketika jawaban-Mu belum kami mengerti. Penuhilah keluarga dan komunitas kami dengan Roh Kudus, agar kami mampu menjadi pembawa pengharapan, penghiburan, dan kasih bagi sesama. Amin.