Menjadi Sesama: Ketika Kerahiman Allah Menjadi Tindakan
Renungan Katolik – Senin, 5 Oktober 2026; Bacaan: Gal 1:6-12; Mzm 111:1-2.7-8.9.10c; Luk 10:25-37
Pesta Santa Faustina Kowalska, Rasul Kerahiman Ilahi
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus...
Sabda Tuhan hari ini membawa kita pada sebuah pertanyaan yang sederhana tetapi sangat mendalam: “Siapakah sesamaku?” Yesus tidak menjawab pertanyaan itu dengan teori. Ia menceritakan kisah tentang seorang yang terluka di jalan, lalu menunjukkan bahwa sesama bukan sekadar orang yang dekat dengan kita, melainkan siapa pun yang membutuhkan hati, perhatian, pertolongan, dan belas kasih kita.
Seorang imam melihat orang yang terluka, tetapi melewatinya. Seorang Lewi melihat, tetapi memilih tidak berhenti. Seorang Samaria justru berhenti, tergerak oleh belas kasih, merawat luka, mengangkat orang itu, membawanya ke tempat yang aman, dan bahkan menanggung biaya perawatannya.
Di sinilah Injil menjadi sangat relevan bagi kehidupan kita sebagai umat Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan. Kita tidak dipanggil hanya untuk menjadi umat yang rajin beribadah, tetapi menjadi umat yang mampu berbelas kasih. Liturgi harus mengalir menjadi kehidupan. Doa harus melahirkan kepedulian. Ekaristi harus menggerakkan kita untuk melihat Kristus dalam wajah mereka yang terluka.
Peringatan Santa Faustina Kowalska semakin memperdalam pesan ini. Melalui hidupnya, Gereja kembali diingatkan bahwa Allah adalah Bapa yang kaya akan kerahiman. Pesan “Yesus, Engkaulah Andalanku” bukan sekadar ungkapan devosi, melainkan undangan untuk mempercayakan hidup kepada kerahiman Kristus dan kemudian menjadi saluran kerahiman itu bagi sesama. Santa Faustina dipanggil untuk mewartakan bahwa kerahiman Allah bukanlah gagasan abstrak, tetapi kasih yang mencari, mengampuni, menyembuhkan, dan memulihkan manusia.
Karena itu, hari ini kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Siapa orang yang sedang terluka di sekitar saya? Mungkin ia anggota keluarga yang sedang kesepian. Mungkin seorang tetangga yang sedang mengalami kesulitan. Mungkin orang tua yang merasa tidak diperhatikan. Mungkin anak muda yang kehilangan arah. Mungkin seseorang di lingkungan Gereja yang menjauh karena pernah merasa dihakimi. Mungkin pula seseorang yang secara sosial berbeda dari kita dan selama ini kita pilih untuk abaikan.
Kerahiman dimulai ketika kita berhenti. Berhenti sejenak dari kesibukan. Berhenti menghakimi. Berhenti merasa diri paling benar. Berhenti bertanya apakah seseorang “layak” ditolong. Sebab Yesus tidak berkata, “Kasihilah hanya mereka yang menyenangkanmu.” Yesus berkata: “Pergilah dan perbuatlah demikian!”
Apa yang perlu kita lakukan? Sebagai umat Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan, Sabda Tuhan dapat kita wujudkan melalui tindakan sederhana tetapi konkret:
Pertama, hadir bagi yang terluka. Hubungilah satu orang yang sedang mengalami kesulitan. Telepon, kunjungi, dengarkan, dan jangan buru-buru memberikan nasihat. Kadang-kadang kehadiran adalah bentuk kasih yang paling menyembuhkan.
Kedua, lakukan satu karya kerahiman secara nyata. Berikan makanan kepada yang membutuhkan, bantu seseorang yang kesulitan, kunjungi orang sakit, dampingi lansia, atau ulurkan bantuan kepada keluarga yang sedang mengalami persoalan.
Ketiga, bangun budaya kerahiman dalam keluarga. Jangan biarkan rumah menjadi tempat orang saling melukai melalui kata-kata kasar, egoisme, dan penghakiman. Mulailah dengan meminta maaf, mengampuni, mendengarkan, dan mendoakan.
Keempat, jadikan komunitas basis sebagai ruang penyembuhan. Wilayah rohani dan kelompok kategorial hendaknya bukan tempat membicarakan kelemahan orang lain, tetapi tempat menemukan solidaritas, persaudaraan, dan pertolongan.
Kelima, bawa kerahiman ke media sosial. Jangan mempermalukan, menghina, menyebarkan fitnah, atau memperkeruh konflik. Jadikan media sosial sebagai ruang untuk menyebarkan kebenaran, pengharapan, penghiburan, dan kebaikan.
Sabda pertama hari ini juga mengingatkan kita agar tidak menggantikan Injil dengan “injil” buatan manusia—termasuk agama yang hanya mencari pujian, popularitas, kenyamanan, atau persetujuan manusia. Santo Paulus menegaskan bahwa seorang murid Kristus tidak dipanggil untuk sekadar menyenangkan manusia, tetapi setia kepada Injil.
Maka, kerahiman juga membutuhkan keberanian: keberanian untuk membela yang lemah, mengatakan kebenaran dengan kasih, mengampuni tanpa membenarkan kejahatan, dan menolong tanpa mencari pujian.
Hari ini Santa Faustina mengajak kita kembali kepada hati Kristus yang berbelas kasih. Dan Yesus mengutus kita bukan untuk bertanya terus-menerus, “Siapa yang wajib saya kasihi?”, tetapi untuk menjadi pribadi yang bertanya, “Kepada siapa hari ini Tuhan mengutus saya untuk menjadi sesama?”
Semoga setiap keluarga, wilayah rohani, kelompok kategorial, dan seluruh umat Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan menjadi wajah kerahiman Kristus bagi dunia.
Yesus, Engkaulah Andalanku.
Ajarlah kami berhenti ketika orang lain terluka.
Ajarlah kami melihat ketika orang lain diabaikan.
Ajarlah kami mengasihi ketika dunia memilih menghakimi.
Dan jadikanlah kami, seperti orang Samaria yang baik hati,
alat kerahiman-Mu bagi siapa pun yang kami jumpai.
Amin.