Wajah Allah dalam Hidup Kita
Renungan Harian Katolik || Minggu, 18 Oktober 2026 || Hari Minggu Biasa XXIX || Hari Minggu Misi || Bacaan Kitab Suci: Yesaya 45:1, 4–6; Mazmur 96:1, 3–5, 7–8, 9–10; 1 Tesalonika 1:1–5b; Matius 22:15–21. ||
Saudara-saudari terkasih,
Kita hidup di tengah dunia yang menuntut banyak hal: waktu, tenaga, perhatian, tanggung jawab, dan kesetiaan. Kita bekerja untuk keluarga, berjuang memenuhi kebutuhan hidup, menjalankan kewajiban sebagai warga negara, serta mengambil bagian dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, di tengah kesibukan itu, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan: Sudahkah kita memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak-Nya?
Dalam Injil hari ini, Yesus menghadapi pertanyaan jebakan tentang pembayaran pajak kepada Kaisar. Dengan kebijaksanaan-Nya, Yesus tidak terperangkap dalam pertentangan yang sengaja diciptakan oleh lawan-lawan-Nya. Ia mengajak mereka melihat persoalan secara lebih mendalam: kewajiban kepada negara harus dilaksanakan, tetapi kesetiaan kepada Allah tidak boleh diabaikan.
Uang bergambar Kaisar dapat dikembalikan kepada Kaisar. Namun, manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Karena itu, yang terutama harus kita persembahkan kepada Tuhan bukan sekadar uang, persembahan, atau kehadiran kita di gereja, melainkan seluruh hidup yang memancarkan kasih, kebenaran, keadilan, dan belas kasih-Nya. Refleksi ini sejalan dengan penekanan Gereja bahwa kemuliaan Allah tampak ketika manusia sungguh-sungguh menghidupi martabatnya dan mengasihi sesamanya.
Bagi kita di Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan, Sabda ini menjadi undangan untuk memeriksa kualitas iman secara jujur. Apakah doa kita membuat kita lebih sabar terhadap pasangan dan anak-anak? Apakah Ekaristi mendorong kita membantu orang miskin, mengunjungi orang sakit, mendampingi mereka yang kesepian, dan mengampuni mereka yang menyakiti kita?
Jangan sampai kita rajin menyebut nama Tuhan, tetapi melukai sesama melalui perkataan, sikap, atau tindakan. Jangan sampai kita aktif dalam kegiatan Gereja, tetapi mengabaikan keluarga sendiri. Jangan sampai kita berbicara tentang kasih, tetapi menutup mata terhadap penderitaan di sekitar kita.
Iman sejati tidak berhenti di dalam gedung gereja. Iman harus menjelma menjadi kehidupan yang menyentuh manusia, terutama mereka yang kecil, lemah, miskin, tersisih, dan menderita.
Dalam semangat Hari Minggu Misi, setiap umat dipanggil menjadi pewarta Injil melalui perkataan dan tindakan. Misi bukan hanya tugas imam, biarawan, biarawati, atau mereka yang pergi ke daerah terpencil. Misi dimulai dari rumah, lingkungan, tempat kerja, dan komunitas kita sendiri.
Mari kita mewujudkan Sabda Tuhan melalui tiga tindakan konkret:
Pertama, dalam keluarga: luangkan waktu untuk berdoa bersama, mendengarkan anggota keluarga, dan membangun kembali relasi yang terluka.
Kedua, dalam kehidupan menggereja: terlibatlah secara aktif dalam pelayanan lingkungan dan paroki, serta hadir bagi umat yang sakit, berduka, berkekurangan, atau mengalami kesulitan.
Ketiga, dalam masyarakat: jadilah pribadi yang jujur, bertanggung jawab, menghormati perbedaan, menjaga lingkungan, dan memperjuangkan keadilan tanpa kehilangan kasih.
Saudara-saudari terkasih, Tuhan tidak hanya mencari umat yang pandai berdoa, tetapi juga murid-murid yang berani menghadirkan kasih-Nya. Dunia membutuhkan orang Katolik yang imannya dapat dipercaya karena nyata dalam perbuatan.
Semoga melalui kehidupan Umat Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan, semakin banyak orang mengalami wajah Allah yang penuh kasih.
Tuhan Yesus, ajarlah kami memberikan seluruh hidup kami kepada-Mu. Semoga iman kami tidak berhenti pada kata-kata dan perayaan liturgi, tetapi menjadi kasih yang nyata, pelayanan yang tulus, dan keberanian memperjuangkan kebenaran. Jadikanlah Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan komunitas yang hidup, peduli, dan misioner. Amin.